“Aku tidak cukup yakin dengan ucapanku sendiri”  Tutur Raju dengan penuh keraguan. Oleh kedua sahabatnya, ia dicercari tatapan yang berdahaga. Raju menggeleng pelan dan tertunduk.Dari balik dua kelopak matanya yang pucat, Raju bersembunyi di tengah kegelisahan yang menjalar. Tubuhnya melemah.

“Tenang saja, Ju.” Raga menepuk pundak raju beberapa kali. Dengan cepat Ilham menghentikan tepukan yang ketiga. “Ssttt” Ilham member isyarat dengan jari telunjuk yang tegak di depan muncungnya. Raga buru-buru menarik lengan besarnya.

“Aku yakin ibumu akan segera sembuh.Demi apa pun itu, ibumu sangat kuat untuk hal seremeh ini.” Bujuk Ilham pada Raju. Raju melihat kearah sahabat nya itu dengan senyuman yang dipaksakan. Lalu menoleh ke kiri, kembali melihat ke arah Raga. Raju selalu merasa beruntung punya keduanya. Sahabat yang setia menemaninya sejak masih anak-anak.

Raju pamit pulang, dua yang lainnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Dan mereka berpisah di pertigaan dekat pos ronda milik RT mereka. Raju berjalan sendirian ke arah timur. Sedangkan Ilham dan raga sebaliknya, melangkah ke arah barat.

Sepanjang perjalanan Raju hanya memikirkan keadaan ibunya yang tadi pagi diculik oleh orang-orang  berseragam seperti astronot. Lengkap dengan alat semprot seperti milik tetangganya yang merupakan seorang petani. Ibunya dipaksa masuk ke sebuah mobil ambulance yang terparkir dengan suara meraung. Ia sebetulnya mengerti apa yang terjadi, berikut prosedur yang memang telah dijalankan oleh pihak penculik. Namun, penerimaan adalah hal begitu sukar untuk saat ini.

Raju melangkah menuju pintu utama rumahnya, melihat sandal jepit kepunyaan ibunya yang terparkir sembarang. Beberapa berita yang ia dengar dari televisi dan media sosial terus menghantui. Tentang bagaimana pertemuan tadi pagi bisa menjadi pertemuan terakhir baginya bersama Ibu, tentang bagaimana mematikannya penyakit jenis baru ini, tentang kabar sulitnya pengurusan jenazah, semua terasa begitu menganggu.

***

 

Dua pekan berlalu dan kini sebuah pesan whatsapp masuk ketelepon miliknya. Seingatnya, sebelum tidur ia sudah menyempatkan untuk mematikan jaringan internet handphone miliknya. Namun kini sebuah pesan tetap dapat mengusik istirahatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk memeriksa pesan tersebut.

Dari layar depan, sebuah nama dikabarkan mengirim pesan. Dokter Tina, seorang dokter muda yang merawat ibunya. Ia melihat kearah jam dinding, pukul dua belas malam. Ada keperluan apa sang dokter mengiriminya pesan semalam ini?

Raju membuka pesan. Tidak banyak kata-kata yang dituliskan oleh sang pengirim. Singkat sekali, Dokter Tina memintanya untuk dating ke pemakaman umum kampong sebelah. Secepatnya pagi ini, dan hanya boleh mengajak dua orang lainnya.

Jantung Raju seketika berpacu dalam detak dan tersengal. Keringat dingin segera mengucur hebat, dia cemas bukan kepalang.

Di tengah kegelisahannya yang kian menjadi, ia tak kunjung beranjak dari kamar. Pesan yang baru saja masuk begitu mengagetkan. Membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Raju terlihat hanya mondar-mandir dengan penuh kegelisahan.

Suara tapak sepatu yang beradu dengan lantai keramik rumahnya terdengar menggema. Raju tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Sejenak memperhatikan suara misterius itu. Tidak ada yang tinggal di rumah ini selainnya. Raju terdiam dan semakin ketakutan. Suara itu kian mendekat dan Raju tetap tidak tahu harus melakukan apa. Selain hanya berdiam di balik pintu dan terus memperhatikan pergerakan tapak sepatu itu melalui indera pendengarannya.

Suara itu semakin dekat.

Tiba-tiba pintu didorong dari luar, seseorang berpenampilan mengerikan menyapa dengan senyuman sinis dari balik daun pintu. Seorang dengan rambut panjang dan muka datar. Tanpa mata dan mulut. Semua hanyalah dahi yang memanjang kebawah. Raju langsung menghamburkan diri kepelukan sang bantal guling. Berlindung di balik selimut warna biru miliknya. Meringkuk dengan dada yang berdebar hebat. Tetesan keringat sebesar biji jagung yang mengalir di balik kerah bajunya.

Bibirnya bergetar dan Raju mencoba memejamkan kedua matanya. Lalu, meringkuk dengan menggenggam kedua kakinya.

Lalu, seseorang menegurnya,

“Raju, ayo bangun! Ibumu sudah boleh dibawa pulang sekarang” Wak Raden membangunkannya yang masih tidur hingga pukul tujuh pagi. Raju menatap bingung kesekelilingnya. Masih dikamar tidurnya, dengan situasi yang berbeda.

Cerpen oleh : Ari Pratama Syuhada