Dewasa ini, Islam sedang diuji dengan berbagai macam problem di seluruh penjuru dunia. Kasus yang paling tampak di Indonesia adalah munculnya orang-orang baru yang menjadi tokoh Islam. Seseorang yang awalnya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi ustadz terkenal hanya bermodalkan kepandaian beretorika dan bersosial media. Walhasil, pemahaman Islam terbawa pada ranah yang terkesan radikal. Hal ini disebabkan oleh orang-orang yang menyampaikan Islam namun bukan pakar dalam ilmu tersebut. Umat muslim yang semakin mudah terbawa emosi, terkhusus orang-orang awam yang mudah terpengaruh dengan dakwah-dakwah radikal yang banyak berkeliaran.

Dalam benak orang-orang barat, Islam dicitrakan sebagai agama barbar. Sehingga ada sebagian orang yang meluapkan amarahnya dalam bentuk aksi. Seperti kejadian baru-baru ini yang sangat memukul hati umat muslim pada khususnya dan manusia pada umumnya. Tragedi pembunuhan yang disiarkan secara langsung layaknya seperti game PUBG yang dilakukan oleh Brentont Tarent. Peristiwa ini sekaligus menjadi bukti nyata yang sekian kali, bahwa tuduhan teroris yang disematkan kepada umat Islam adalah salah. Banyak masyararakat Selandia Baru yang berempati tehadap umat Islam setelah kejadian itu.

Dalam menyikapi kasus ini, penulis ingin mengembalikan citra Islam berdasarkan manhaj al-Azhar. Grand Syeikh Ahmad Tayyib sebagai pimpinan Al-Azhar telah lama menyebarkan pemahaman agama Islam yang moderat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً…

Artinya:
“…Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai ‘umata wasatha’ (umat pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (QS. Al-Baqarah : 143)

Walaupun dalam penyebaran pemahaman ini banyak sekali rintangan, seperti halnya tuduhan negatif yang ditujukan kepada Grand Syeikh al-Azhar secara personal maupun kepada Universitas Al-Azhar. Namun tuduhan ini tidak sedikitpun menggoyahkan sikap al-Azhar untuk menyebarkan pemahaman yang cinta akan kedamaian dan menjauhi segala macam permusuhan. Karena Al-Azhar sendiri telah lama mengabdi kepada umat Islam dengan menciptakan cendikiawan-cendikiawan muslim yang sangat berpengaruh di dunia. Al-azhar sendiri pun sudah tidak diragukan lagi keberadaannya. Al-azhar adalah Universitas tertua ke-3 setelah Universitas Al-Qawariyyin di Tunisia dan Universitas Sankore di Mali, Afrika Barat.

Grand Syekh Al-Azhar yang juga sebagai pemimpin Majlis Hukama al-Muslimin telah banyak mengadakan ataupun menghadiri pertemuan-pertemuan penting di kesempatan internasional untuk memperkenalkan Islam sebagai agama yang rahamtal lil alamin (rahmat bagi semuanya).
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

وَ ما اَرْسَلْناکَ اِلاَّ رَحْمَهً لِلْعالَمِینَ

Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya : 107)

Salah satu contohnya adalah pertemuan yang belum lama ini, yaitu pertemuan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayyib dengan pemimpin pemuka agama Kristen Paus Fransiskus di Uni Emirat Arab. Salah satu hasil pertemuan itu adalah sebuah kesamaan pemahaman akan pentingnya perdamaian. Dan juga menyangkut pelarangan terhadap semua pihak untuk tidak melakukan pembunuhan atas nama Tuhan, karena Tuhan menciptakan manusia tidak untuk saling bunuh membunuh.

Usia Al-Azhar yang sudah mencapai 1043 tahun dan pengalaman yang sudah banyak dalam menyebarkan pemahaman Islam rahmatal lil alamin, maka penulis menyakini bahwa Al-Azhar sangat layak menjadi duta Islam di forum internasional pada era modern saat ini. Didukung dengan kedalaman ilmu dan pemahaman terhadap al-Quran dan Sunnah yang sesuai dengan kondisi umat manusia, tanpa mengurangi apalagi menciderai al-Quraan atau Sunnah itu sendiri, menjadikan al-Azhar sebagai duta dalam menyebarkan Islam yang sesungguhnya.

Ditulis oleh Muhammad Akbar Tanjung

Juara 2 Lomba Artikel pada KMJ Games 2019