Desember 2019

“Perhatian, para penumpang pesawat Etihad Airways dengan nomor penerbangan EY 471 tujuan Abu Dhabi dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu 10. “ suara pramugari terdengar lembut di  telingaku. Menyadarkan aku yang hampir masuk ke dalam dunia imajinasi.

Aku bergegas mengekor di belakang mereka yang aku yakini bertujuan sama denganku. Menepis rasa sedih yang tak kunjung hilang meski satu jam telah berlalu. Entahlah, bisa jadi orangtuaku sudah dalam perjalanan pulang, atau memastikan pesawat yang kutumpangi benar-benar lepas landas.

Setelah melewati proses yang begitu panjang, aku akhirnya menemukan tempat duduk yang sesuai dengan yang tertera dalam tiketku. Meletakkan koper pada tempatnya, aku mulai memosisikan diri dengan nyaman pada kursi. Membiarkan diriku kembali hanyut dalam dunia khayal, mengilas balik tentang alasan kenapa aku bisa ada disini.

***

April 2018

Aku menghela nafas lega, UNBK selesai hari ini. Keluar dari ruang ujian, mencari tempat paling nyaman untuk menunggu. Aku mungkin orang pertama yang selesai, entahlah. Aku meraih tumbler yang sudah kuiisi dengan air, cepat-cepat mengusir haus yang sejak tadi mengganggu. Hah, ujian memang selalu menegangkan. Padahal, mata ujian hari ini adalah pelajaran favoritku, tapi tetap saja terasa horor.

“Ra! Udah lama nunggu?” Ifa keluar ruang ujian dengan wajah yang semringah. Ciri khas Ifa sekali memang. Dia sangat ekspresif.

“ Iya nih, lama banget sih.” Omelku.

“ Ya maaf, kamu kan tau gimana perfeksionisnya aku.” Aku hanya memutar bola mata, bosan mendengarnya.

Kami bergegas pulang ke asrama, besok papa akan datang menjemput, dan aku belum berkemas sama sekali karena sibuk belajar (padahal tidur) stt, jangan bilang siapa-siapa ya! Belajar saat ujian sama sekali engga ada serunya, asikan juga tidur. Jangan ditiru ya, hihi.

Aku hanya merasa senang, setelah sekian lama aku akhirnya bebas dari asrama. Kesenangan yang sesaat tentu saja, karena yang terlihat menarik, ternyata belum tentu seindah kelihatannya.

Papa datang keesokan harinya, membawaku pergi dari tempat yang mengisi sebagian besar dari memori indah dikepalaku. Semenyebalkan apapun hidup di asrama, tidak akan membuatku menafikan banyaknya kebaikan yang aku raup darinya.

“Kak?” papa memanggilku, lembut sekali. Ini yang aku suka dengan jalan bareng papa. Kami kadang membahas banyak hal seru. Membuatku melupakan ngantuk yang entah kenapa selalu menyerang saat aku masuk mobil.

“ Kakak ingin kuliah dimana? “ Tanya papa lagi. Aku sukses terdiam atas pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini selalu aku hindari. Yang tak pernah ingin kujawab. Karena jujur saja, aku tidak merasa berbakat atas apapun. Haruskah aku masuk Fakultas Kedokteran seperti cita-cita masa kecilku? Atau aku harus menyelesaikan hafalanku, dan berangkat ke Kairo seperti yang beberapa waktu ini selalu menyita fikiranku?

“ Papa engga masalah sih, kakak mau kuliah dimana aja. Asalkan al-Qurannya selesai. Karena mau gimanapun kakak ngejar dunia, dengan al- Quran yang kakak pegang teguh, kakak selalu akan tahu batasan.” Lanjut papa melihat aku yang tetap setia bungkam.

“ Kakak ke Kairo aja, boleh, Pa? “ sekarang, giliran papa yang bungkam. Mungkin papa tidak pernah mengira kalo negeri para nabi itu termasuk dalam salah satu pilihanku.

“ Pikir-pikir dulu  kak, kedokteran engga menarik lagi emang? Bukannya kakak semangat banget pengen jadi dokter? “ Aku membenarkan dalam hati. Aku juga tidak tahu, sejak kapan ketertarikanku terhadap dunia kesehatan berubah haluan ke Negeri Kinanah. Mobil jadi hening setelahnya. Tidak ada lagi yang berinisiatif membuka percakapan. Dan urusan itu mengambang begitu saja, dengan aku yang mulai lelap dalam mimpi.

***

Aku masih diam dirumah, bahkan setelah mendaftar UMPTKIN, SBMPTN, dan ujian masuk perguruan tinggi swasta lainnya pun, tidak satupun dari mereka yang menjadi tujuanku. Semua hanya terasa salah. Tidak ada yang membara bahkan hanya dengan membayangkannya. Kenapa urusan kuliah saja harus serumit ini, sih? Aku sebenarnya berkeras ingin tetap pergi ke Negeri Kinanah, tapi papa juga berkeras menyuruhku kuliah didalam negeri saja.

Dan akhirnya, waktu berlalu begitu saja. Dengan aku yang masih belum memutuskan apa-apa. Terlambat sih, ujian masuk perguruan tinggi negeri sudah lama selesai, begitu juga ujian ke Timur Tengah. Hanya aku yang masih diam dalam bimbang. Satu-satunya pilihan, hanya universitas swasta. Tapi, aku masih saja belum tertarik.

Kegamanganku jadi momok menakutkan buat papa. Papa yang awalnya selalu bersikap lembut, tiba-tiba meninggikan suaranya pagi itu. “ Kak, yang mau kuliah itu kakak. Yang masa depannya masih belum bisa diprediksi itu kakak, kenapa jadi papa dan mama yang takut sih, Kak?! Kamu engga niat sekolah lagi, iya?! “. Aku bisa apa selain diam. Ingin berontak sih, akukan sudah bilang, aku maunya ke Kairo. Tapi papa selalu bilang tidak. Aku juga tidak mau, waktu yang aku lewatkan terbuang sia-sia hanya karena aku tidak ikhlas menjalaninya.

Aku tetap bungkam dalam kekeras kepalaanku, dan papa tetap setia dengan keteguhan hatinya. Suasana rumah jadi canggung, mama juga bingung harus bagaimana. Aku bahkan enggan keluar kamar. Sampai ketika maghrib menjelang, papa memanggilku. Meminta maaf dan memohon, agar aku mau menghafal dulu sebelum lanjut kuliah tahun depannya.

Aku luluh, merasa kecewa terhadap diri sendiri karena membiarkan mereka yang kasih sayangnya tidak pernah habis, memohon-mohon untuk kebaikanku sendiri. Jadilah, salah satu markaz tahfidz di Jawa Barat jadi destinasi baruku. Tempat dimana aku akhirnya menemukan sesuatu yang kusukai, dan sesuatu yang sangat ingin kupahami sampai akar,hingga menguatkan tekadku untuk pergi ke Negeri Kinanah.

Usia ku delapan belas, tapi aku masih sangat dimanjakan. Aku hanya dibiarkan memilih diantara dua opsi terbaik. Tanpa benar-benar memikirkan ada apa dibalik opsi tersebut. Yang aku tau, itu baik. Dan memang benar, ternyata, orangtua jarang salah mengenal anaknya. Aku bersyukur karena akhirnya aku menghancurkan kekeras kepalaanku, dan teramat bersyukur, bahwa aku lahir dari mama dan papa hebat seperti mereka.

***

Januari 2019

Hari ini Jumat, hari paling dinanti anak satu markaz.

Hari menelpon tentu saja. Aku juga sudah rindu sekali. Setelah selesai bersih-bersih kamar, dapur, dan seluruh villa, kami akhirnya diizinkan memakai handphone selama satu jam. Aku bergegas ke kamar pembina asrama, mengurus perizinan.

Banyak sekali notifikasi yang masuk setelah handphonenya kunyalakan. Tapi yang paling menarik perhatian, adalah whatsapp dari papa. Papa mengirimkan link, yang ternyata pengumuman pendaftaran ke Timur Tengah !

‘ini artinya papa bakal izinin aku ke Kairo, kan ?’ batinku. Jantungku berdegup kencang, hampir meledak karena ekspetasi yang berkeliaran tanpa bisa kucegah. Video Call dari mama masuk, aku bergegas menjawab sebelum notifikasinya berubah menjadi panggilan tak terjawab.

Senyum mama menyambutku dilayar handphone, membuat sudut bibirku ikut tertarik keatas.

“ Kakak, apa kabar? Sehatkan? Hafalannya gimana? “ lalu obrolan mengalir begitu saja.

Papa mengambil alih percakapan selanjutnya, aku berdebar, menantikan apa yang akan papa utarakan. Aku yakin sekali, papa akan memberiku izinkan? Papa tidak akan melara- “Kakak beneran mau ke Kairo, kan?” pertanyaan papa memutus fikiran-fikiran konyolku. ‘Gotcha! Kubilang juga apa, kan? Papa pasti kasih izin kali ini.’ batinku lagi-lagi. Kontan saja, senyumku mengembang lebih lebar.

“ Iya, Pa. Kakak mau. Serius deh, Pa, semakin banyak kakak ngafalin, semakin kurang aja gitu rasanya pengetahuan kakak tentang al-Quran. Masa nih, Pa, ayat yang kakak baca, ternyata setelah digali lagi, cakupannya luas banget banget banget. Kakakkan jadi tambah kepo.” Sahutku menggebu-gebu.

Papa hanya tersenyum melihat tingkahku.

“ Oke, kalau kakak yakin. Papa pasti dukung. Kakak harus persiapan kalo gitu. Yang semangat ya, Nak. Jadilah orang yang membawa banyak manfaat buat orang lain.”

Begitulah, telepon sederhana itu menutup hariku dengan kebahagiaan.

Sekarang, selain menghafal, kegiatanku adalah membahas soal-soal ujian dari tahun-tahun sebelumnya. Tapiii.. tidak terlalu efektif sih. Aku sudah bilang belum, kalo belajar buat ujian itu membosankan? Jadi, aku hanya akan belajar kalo aku mood saja, hehe. Sekali lagi, tidak untuk ditiru ya!

Dan entah kenapa, aku yakin sekali kalau aku bisa jadi mahasiswa tahun ini juga. Bukan karena aku ngerasa bisa sih, tapi karena aku percaya Allah gaakan mungkin ngecewain aku, sekalipun aku selalu jadi manusia yang tidak tahu diri. Allah gamungkin mengabaikan doa-doa yang selalu aku langitkan tiap pagi, siang, dan malam, kan? Allah pasti punya banyak cara buat jadiin mimpi aku nyata.

Cuma keyakinan itu yang aku pegang erat-erat. Aku bahkan tidak ikut program pelatihan manapun, kecuali yang online. Itupun.. aku tidak serius, dasar aku.

***

Mei 2019

Aku sudah dirumah, lagi. Waktu setahun melesat bagai peluru. Sudah saatnya aku serius memikirkan masa depan. Aku mulai sungguh-sungguh mengumpulkan info-info Timur Tengah. Pendaftarannya dibuka kapan, persyaratannya apa saja, dan lain sebagainya.

Sampai, satu bc-an menarik perhatianku. Isinya tentang pelatihan bahasa yang akan diadakan secara singkat. Aku tergiur tentu saja. Aku sudah membayangkan, nanti ketika lulus, aku bisa langsung kuliah. Lumayan, hemat setahun. Mengingat aku juga gap year. Tapi biaya pendaftarannya saja membuatku beristigfar berulang kali, ckck. Aku memilih melupakan bc-an itu.

Sampai ketika hari terakhir pendaftaran, aku masih belum memberitahu papa tentang itu. Malamnya, papa tiba-tiba bilang “ Ini kenapa engga kasih tahu papa? “ wajah papa seperti menahan kekesalan.

“ Biayanya mahal, Pa.” Jawabku lirih. Aku saja ragu, papa bisa mendengarnya. Toh, aku fikir-fikir lagi, setahun tidak akan lama kok.

Wajah papa memerah. Entahlah, mungkin tersinggung. Aku tidak tahu pasti.

“ Sejak kapan biaya pendidikan jadi tanggung jawab kalian untuk berfikir?! Sudah sana. Cepat daftar sebelum tutup. Jangan pernah coba-coba lagi mikirin biaya. Itu tanggung jawab papa dan mama. Tugas kalian cuma belajar dengan sungguh-sungguh.”

Dan ternyata, jalan panjangku menuju impian, tergantung pada apa yang aku dan papa perdebatkan malam itu.

***

Juli 2019

Akhirnya, bulan-bulan sibuk itu datang juga. Ujian penerimaan sudah didepan mata!

Ujian pertama berhasil kulewati. Tapi entah kenapa, aku tiba-tiba pesimis. Keyakinanku tiba-tiba luntur. Aku tidak percaya diri lagi. Ujian tahap kedua benar-benar membuatku kalut. Nanti deh, aku ceritakan bagaimana prosesnya. Sebelum itu, ada sebuah rahasia kecil yang ingin kuungkapkan. Aduh, memikirkannya saja membuatku merasa konyol.

Pada hari ujian tahap kedua, papa marah besar. Salahku sih, yang tidak teliti membaca informasi. Pagi-pagi sekali, aku sudah berkemas, bersiap untuk ujian. Eh, aku sudah bilang belum, kalo mediatorku itu papa ku? Haha. Iya, jadi papa adalah orang yang selalu menemaniku. Mengantar kemanapun aku butuh pergi, entah pelatihan bahkan ujian.

Oke, kembali ke topik, karena kelalaianku, kita jadi salah alamat. Aku tidak membaca detail informasi, karena kufikir gedung tempat ujiannya akan sama saja. Jadi, kamipun segera pergi ke tempat pelaksanaan ujian pertama. Ketika kami datang, lingkungan universitas itu masih sepi sekali. Aku mulai punya firasat buruk. Papa segera bertanya kepada sosok yang kebetulan sedang lewat. Ternyata, ujian memang dilaksanakan pada universitas itu, tapi dikampus dua !

Sontak saja papa kesal. Pasalnya, jarak dari kampus satu kekampus dua itu tidak bisa dibilang dekat. Apalagi kalau macet. Aku juga ketar-ketir, khawatir terlambat. Papa juga sama kalutnya. Untuk kali itu, aku bersyukur ada dinegara yang jarang on time-nya. Karena ketika datang, ternyata masih dalam tahap pengumpulan berkas.

Setelah semua berkas aku kumpulkan, aku yang tidak punya kenalan sama sekali jadi bingung. Kulihat sekeliling, orang-orang sedang asik berdiskusi bersama teman-temannya. Mau ikutan jugakan, tidak kenal. Jadilah aku duduk sendiri, lumayan, mengulang-ngulang juz yang akan diujikan.

Saat itulah, aku melihatnya. Dia duduk sambil memegang mushaf, mulutnya bergerak sesuai surah yang dia baca. Matanya terpejam, khas orang yang sedang menghafal. Dia terlihat tenang, bahasa anak jaman sekarang sih, kalem, cool, sejenis itu deh. Tidak terlihat terganggu dengan keadaan sekitar yang memang riuh.

Wajahnya tidak terasa asing, mungkin ini memang bukan pertama kali aku melihatnya. Setelah kuingat-ingat lagi, ternyata dia juga hadir dipelatihan dan kami berada pada ruangan yang sama saat ujian tahap satu. Aku tidak tahu namanya saat itu. Masa bodoh deh. Akukan mau ujian.

Dan Si Lelaki Kalem, terlupakan sesaat.

Ujian tahap dua itu wawancara dan hafalan. Dibagi jadi enam orang perkloter dengan tiga sesi. Sesi wawancara keazharan dengan bahasa arab, sesi hafalan, lalu sesi wawancara tentang kebangsaan. Ketika sesi wawancara tentang kebangsaan, aku sempat heran. Kenapa yang jadi pertanyaan dan bahan diskusi harus tentang politik yang sedang hangat-hangatnya saat itu. Tapi, ya sudahlah.

Ada kejadian yang sebenarnya membuat aku merasa yakin, bahwa aku tidak akan diloloskan kali ini. tidak usah diceritakan deh. Aku ingin lupa saja.

Dan ujianku, belum selesai sampai disini. Masih ingat tentang pelatihan bahasa yang kusinggung diatas? Aku sebenarnya juga merasa ragu sih, bagaimana jika ternyata aku tidak lolos seleksi? Kan percuma saja aku jauh-jauh ikut placement test ke Ibukota, toh ujung-ujungnya tidak akan pergi. Tapi papa bersikeras memintaku ikut. Jadi, ya sudah. Yang punya uangkan papa, aku ngikut saja. Aku merasa tambah kacau pada ujian kali ini, soal-soalnya lebih sulit. Aku tidak peduli lagi, terserah Allah mau bagaimana terhadapku.

Aku masih di Ibukota ketika pengumuman hasil seleksi bisa di akses. Firasatku benarkan, aku tidak lolos. Aku benar-benar terpuruk kala itu. Aku tidak pernah merasa ditolak. Aku tidak pernah tidak bisa mendapat apa yang aku ingin. Terlebih, papa juga tampak menghindar. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.

Panggilan telepon dari mama terpampang dilayar handphoneku. Kontan saja aku menangis. Papa masih diluar kamar, aku tidak tahu apa yang sedang papa lakukan. Aku mengeluarkan segala kekecewaan dan ketakutanku pada mama. Aku menangis tersedu-sedu, menyesal karena mungkin memang aku yang kurang usaha. Aku takut papa marah, atau malah kecewa.

Aku sudah terlelap karena lelah menangis saat kepalaku dielus pelan. Wajah dengan senyuman khas milik papa memenuhi netraku ketika aku membukanya. Aku merasa lega, setidaknya papa masih memberi senyum itu, meskipun raut lelahnya tidak  bisa tertutupi.

Papa merengkuhku dalam pelukan. Dengan hangat yang selalu bisa menenangkanku, dan elusan pada punggung yang membuatku selalu merasa aman dan nyaman.

“ Sudah ya, Kak. Jangan sedih lagi. Bukan salah kakak kok. Papa yang paling tau batas kemampuan anak papa. Papa tau anak papa hebat. Mereka hanya belum bisa melihatnya. Papa berfikir keras sejak tadi, Kak. Bukan menghindar dari kakak. Kalau menuruti ego, papa mungkin sudah ada dirumah Menteri Agama sekarang. Mudah saja bagi papa untuk minta beliau meloloskan kakak. Tapi, itu bukan opsi yang baik kak, bahkan jangan pernah menjadikan itu opsi sekalipun. Sesuatu yang dimulai dengan ketidakjujuran, tidak akan pernah jadi hal baik.” Kalimat yang diutarakan papa membuatku lega. Karena setidaknya, papa masih mempercayaiku. Papa masih menerimaku dengan baik, meskipun nanti seluruh dunia bisa saja menolakku.

Aku bersiap melepas mimpi besarku malam itu. Mungkin, Kairo bukan tempat yang tepat untukku. Tapi, aku sudah pernah bilangkan, kalo Allah tidak akan pernah mengecewakan ? Bukannya percaya diri, hanya saja sugesti itu yang akhirnya membuatku bisa menuliskan kisah ini.

Allah benar-benar menjawab doa pagi siang malam ku. Disaat yang benar-benar tepat pula. Allah berikan apa yang aku minta, dengan sesuatu yang sama tapi dengan jalan berbeda. Ternyata, pelatihan bahasa itu sarana yang Allah pilih untuk membuat  mimpiku jadi nyata.

Hari-hari selanjutnya masih menjadi hari yang berat bagiku. Karena tentu saja, ini menjadi awal perjalanan yang masih tidak tentu dimana ujungnya. Aku sempat ingin mengeluh, kenapa jam belajarnya sangat tidak manusiawi, sih? Dari pagi sampai menjelang malam? Masih biasa. Belajar sepuluh hari penuh tanpa libur? Yang benar saja! Iya, hanya ada satu hari libur setelah ujian. Tapi setelah dijalani, ternyata tidak seburuk itu. Setidaknya, waktuku habis untuk hal-hal yang bermanfaat.

Lupakan tentang bayangan nongki-nongki ­setelah belajar. Baca novel sambil rebahan ternyata lebih menarik menjadi penutup hari yang melelahkan. Sesekali, aku masih ke mall, sekadar jalan-jalan sehabis ujian. Pergi menjelajah naik KRL dan MRT, pergi ke pameran buku atau sekadar mengunjungi Perpustakaan Nasional dan gedung-gedung bersejarah buat quality time bareng anak satu kamar.

Begitulah kehidupan empat bulanku berlalu. Dengan wisuda manis diakhirnya.

***

Desember 2019

Visaku sudah tersedia sejak beberapa hari lalu. Keberangkatanku tepat tengah malam nanti. Ini jadi perpisahan paling menakutkan. Perantauanku bukan hanya sebatas luar kota lagi, tapi luar negeri. Ada banyak negara yang harus ku seberangi untuk bisa pulang dan kembali. Entahlah bagaimana nanti aku bisa menghadapi kerinduan.

Aku duduk dikursi tunggu bandara, hanya menatap lekat-lekat semua keluarga yang ikut mengantarku malam ini. Masih berusaha mengusir sesak yang semakin terasa menyakitkan. Pelukan papa dan mama adalah hal terakhir yang menutup pertemuan kami hari itu, sekaligus memori paling indah yang bisa kuingat di negaraku.

“Perhatian, para penumpang pesawat Etihad Airways dengan nomor penerbangan EY 471 tujuan Abu Dhabi dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu 10. “ suara pramugari yang terdengar lembut itu mengalun di  telingaku.

Aku bergegas mengekor di belakang mereka yang aku yakini bertujuan sama denganku. Menepis rasa sedih yang tak kunjung hilang meski satu jam telah berlalu. Entahlah, bisa jadi orangtuaku sudah dalam perjalanan pulang, atau memastikan pesawat yang kutumpangi benar-benar lepas landas.

***

8 Agustus 2020

‘Ayolah, ini adalah apa yang kamu inginkan selama ini. Kamu harus berkorban untuk itu.’  Seakan tidak ingin kalah, suara lain ikut menimpali ‘ Apa ini adalah hal yang pantas untuk kamu dapatkan? ’ yang tak ayal semakin menggerus puing-puing kepercayaan diri yang mulai runtuh. Dan perang batin itu masih berlanjut hingga sekarang, pada detik yang sama saat aku menuliskan kalimat terakhir pada paragraf ini. Entahlah, kapan mereka akan berhenti, dan siapa diantara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.

Kisahku masih berlanjut, tentu saja. Apa yang telah kutulis di atas hanya sebagian kecil dari yang ingin ku bagikan. Aku masih terlunta-lunta, belum menemukan sesuatu yang mulanya kujadikan alasan untuk ada disini. Pengetahuanku tentang al-Quran masih itu-itu saja. Stuck, tanpa ada kemajuan berarti.

Nanti-nanti, bisa saja kisah ini bertambah menjadi banyak bagian. Tidak ada yang tahu masa depan selain Dia, kan?

Sudah pukul 00.44 disini, mataku juga sudah mulai lelah. Aku cukupkan sampai disini, ya? Semoga ada lain kali untuk mengucapkan “ Hai, kita bertemu lagi. ”

SELESAI

Cerpen oleh : Alya Rahmayuni